Problematika “Malu” dalam Kehidupan Sosial dan Masyarakat

Apa yang terdapat dibenak kita kala mengikuti tutur “malu”? Bila kita menelusuri ke pangkal Wikipedia bahasa Indonesia, “malu” dibilang bagaikan salah satu wujud marah orang dimana mempunyai beraneka ragam maksud, penafsiran, ataupun situasi yang dirasakan orang dampak suatu aksi yang dikerjakannya, serta setelah itu mau menutupinya. Kita yang merasa “malu” itu hendak berupaya merahasiakan kekurangan kita pada orang lain.

Kemudian gimana bila kita merasa “malu” sebab tidak bisa penuhi standar kehidupan sosial dalam warga?

Banyak sekali keadaan yang kerap membuat kita merasa malu dalam kehidupan sosial. Semacam malu kala memperoleh angka rapor yang kecil di Sekolah, malu sebab tidak dapat lanjut ke akademi besar, malu sebab terdesak gap year serta wajib bertugas keras diusia belia buat membantu kuliah, malu sebab merasa terabaikan dengan sahabat yang telah bertugas serta berhasil, malu sebab belum memiliki kekasih, malu sebab belum ketahui bila hendak menikah, malu sebab sulit memiliki anak, malu sebab mempunyai penyakit khusus, malu sebab dari keluarga broken home, malu sebab memiliki orang berumur yang bertugas pegawai serabutan, malu sebab raga yang dirasa kurang, serta perasaan malu yang lain.

Membandingkan Dengan Orang Lain

Kita acapkali berupaya menutupi realitas kalau hidup kita memanglah berlainan dengan orang lain. Perasaan “malu” timbul sebab kita menyangka hidup orang lain lebih sempurna serta lebih wajar dari kita.

Kita merasa kalau kekurangan kita merupakan keburukan, alhasil kita wajib menutupinya. Serta reaksi ini pula timbul kala kita merasa kandas dalam menggapai sesuatu perihal yang dikira sempurna dalam kehidupan atau kala kita dihakimi warga sebab tidak bisa penuhi ekspektasi orang lain.

Tetapi mengerti kah? Kalau keadaan diatas tidak sepatutnya membuat kita malu. Malah kekurangan merupakan perihal yang wajar, sebab itu tidaklah sikap yang kurang baik. Mestinya, perasaan “malu” timbul bila kita melaksanakan sesuatu aksi yang kurang baik terlebih hingga mudarat orang lain.

Stigma Sosial

Stigma sosial membuat kita acapkali berasumsi kalau hidup sempurna merupakan bila kita senang tanpa kekurangan apapun bagus dari bidang keluarga, finansial, raga, profesi, serta yang lain.

Kecimus dari warga dekat menimbulkan pola pikir kita jadi tidak segar serta muncullah perasaan malu itu. Inilah yang acap kali membuat kita terhimpit sebab tidak dapat penuhi standar sempurna.

Yang lebih gawatnya lagi, bila kita justru berganti jadi orang ilegal yang pura-pura senang seolah mempunyai hidup sempurna, cuma buat menjauhi gosip orang lain. Sementara itu sejatinya, keceriaan tidak dapat dipunyai tiap durasi. Juga keceriaan bisa digapai kala kita dapat melampaui permasalahan ataupun kesedihan yang mengenai kita.

Memanglah naturalnya, orang mempunyai watak ialah mau nampak hebat serta tanpa antara dimata orang lain. Tetapi kenyataannya, tidak terdapat satupun orang di bumi ini yang sempurna.

Tiap orang tentu mempunyai dilema kehidupannya tiap- tiap. Orang cuma acapkali membuktikan keadaan yang bagus saja pada orang lain. Kita tidak hendak sempat ketahui apa yang terdapat dibalik pintu rumah seorang, sebab kita cuma memandang bagian luarnya saja.

Tiap orang memiliki kekurangan serta kerapuhannya tiap- tiap. Terlebih dengan terus menjadi majunya sosial alat pula membuat kita acapkali menyamakan kehidupan kita dengan orang lain, alhasil selesai dengan rasa malu yang menyiksa diri sendiri.

Jadi buat kita seluruh yang tengah berjuang dalam mencapai hidup yang senang, ketahuilah kalau kenyataan tidak bisa hidup cocok dengan sempurna. Apa yang tengah kita lakukan serta hadapi merupakan suatu yang wajar serta telah konsep Tuhan biar kita jadi orang yang lebih bagus.

Tiap- tiap orang mempunyai durasi, jalur, rute, serta standarnya buat hidup senang. Karenanya, janganlah pedulikan kecimus banyak orang diluar situ. Mereka merupakan angin yang cuma hendak melewatimu saja, serta senantiasa ingat kalau sedang banyak orang yang dapat menyambut dirimu apa terdapatnya.

Jadi, semoga artikel ini bisa membantu memperluas wawasan kalian yang baca dari berbagai kalangan tua ataupun muda. 

Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup adalah sebuah pembelajaran.